m
i
c
h
a
n
My Profile
Mitha Paramitha
Mitha ; Michan ; Nisa ; Micong ; Mith ; cung
Surabaya, 04 October 1992
University of Brawijaya
college student
Wish List
FSRD ITB (I got UB)
new cell-phone
new orange-notebook (not orange, but black)
driving license
boyfriend <--- miris abis dah. LOL
I Love
editing
doodling
daydreaming
chocolate
flowers
orange
poems
etc
I Hate
spicy taste
cold weather
heavy rain
HORROR THINGS!
myth
etc
Profile
these aren't enough to know me deepest
Mitha Paramitha
Mitha ; Michan ; Nisa ; Micong ; Mith ; cung
Surabaya, 04 October 1992
University of Brawijaya
college student
Wish List
driving license
boyfriend <--- miris abis dah. LOL
I Love
editing
doodling
flowers
orange
poems
etc
I Hate
spicy taste
cold weather
heavy rain
HORROR THINGS!
myth
etc
It's My Seven Colors Life
Saat aku mencoba menelusuri dimana aliran sungai cintaku, aku tahu ini akan berhenti dan meluap. Bukan ke laut, dimana tempat yang aku tuju sebenarnya. Atau bahkan air cinta yang aku teteskan setiap hari—mengalir—akan meluap sia-sia. Membanjiri sesuatu yang tak perlu. Karena aku juga tak membuat bendungan untuk menahannya agar tidak keluar. Tak ada yang bisa membawanya kesana. Tak ada. Kecuali laut—dia—itu sendiri yang membukakan gerbang pembatas, sebongkah, atau bahkan gunungan dinding—batu, tentu—agar tidak ada yang bisa memasukinya. Tidak ada yang bisa mengaliri dasar laut yang ia punya, yang mulai menguap dan mengering. Membinasakan setiap keindahan dan “biota” hidup.
Namun tentu ada satu gerbang yang ia buka. Hanya satu dan itu tak mengalirkan kesejukan serta nafas seperti yang ia inginkan. Justru kehidupan dan tirta berharga—yang ia simpan, ia miliki satu-satunya—menderas pada satu jalur sungai kering, habis, tidak berair. Banjir oleh cintanya. Namun sama. Sungai itu melakukan hal persis seperti ia melakukannya padaku. Sama persis. Tapi ia mempertahankannya seperti itu! Tak peduli pada air—yang sangat-SANGAT diinginkan untuk membasahi, ataupun menetesi sedikit pada banyak sungai yang berusaha bersatu—yang akan habis. HABIS!
Aku memang tak mencoba menembus, membobol, atau bahkan dengan paksa menderaskan aliran airku untuk menghancurkan pembatasnya. Tidak. Tidak akan aku lakukan. Karena akhirnya adalah sama—terbuang sia-sia. Aku memilih membanjiri tempat lain. Tanpa ia ketahui. Lebih baik mengakhirinya. Jika—tentu saja—berakhir seperti itu. Aku menyerah pada arus yang aku punya. Kadang menderas, namun tak jarang beralun perlahan, berusaha berbalik mundur, kembali ke belakang. Namun tak bisa. Aku tak bisa.
Sering aku merasa betapa sejuknya arah yang membawaku menuju kesana. Betapa banyak pemandangan dan hal yang bisa ku pelajari. Bahkan terlalu banyak, sampai-sampai aku takkan sanggup menahan detak—pada arusku—yang menggelora. Berusaha menyimpannya dengan sekuat hati, berusaha menelannya. Segala yang nikmat dan terasa dingin. Namun—lagi-lagi—tak bisa. Semakin banyak, semakin susah aku pelajari. Tak jarang pula tanya yang aku bawa ingin melompat kesana-kemari. Aku—juga—tak bisa menahannya (lagi).
Aku tak tahu kapan ini akan sampai, atau kapankah ini akan meluap. Kemana pula arah yang terpeta. Dimana ini sebenarnya? Tak jarang aku berusaha memutar, membuka jalan dan bendungan baru. Berusaha menghindar namun laut yang aku inginkan itu bermagnet—menarikku! Ia menutup dan menghalangi alirannya namun ia seperti membuka. Membiarkan menarik sungai-sungai—seperti aku—tapi penghalangnya tetap ada disana. Berdiri kokoh dengan angkuh namun memesona. Tentu saja. Tak sedikit pula yang harus meluapkan air di dekat—di tembok itu.
Aku belajar banyak dari sana. Aku belajar cara mengarahkan aliran ini. Kepadanya yang sulit ditembus. Kepadanya yang abstrak—begitu sebutanku. Sejujurnya, aku juga tidak tahu dan tak mengerti apa yang tersembunyi di balik pembatas itu. Aku hanya mereka-reka. Menebak dari setiap pembicaraan sepintas dalam sibakan angin. Terbawa, lalu terbang lagi. Aku memang mereka-reka. Semua keindahan itu, segala yang menyejukkan—aku tidak berbohong tentang hal itu—dan semuanya. Aku hanya menghayalkannya. Tapi ku harap saja seperti itu. Karena alun angin pernah berbisik begitulah adanya tentang dia.
Lalu bagaimana jika aku tidak tahan untuk segera ke sana, mendobrak pada pembatas itu? Bagaimana jika itu sampai terjadi? Bagaimana jika ego yang menyetir aliranku? Dan bagaimana lainnya yang akan terus berlanjut.
Tentu aku akan mencobanya. Tentu saja dan aku berjanji akan hal itu. Mencoba mengetuk pembatas dengan halus. Aku berharap emosi tidak keluar saat itu. Sangat berharap. Kemudian jika pembatas itu tidak bergeming, aku akan memutar, membuka aliran baru dengan tujuan yang sama. Namun ada yang berbeda. Ya, berbeda.
Air yang aku bawa ini tersubstansi racun. Toksik yang berbahaya jika tak tercampur dengan substansi lain yang sesuai. Toksik itu bernama cinta . Cinta, abstrak pula. Sama seperti laut itu. Lalu ketika aku membuka aliran baru itu, aku membawa substansi lain. Bernama persahabatan. Aku akan memperjuangkan substansi ini—jalan terakhir untuk menembusnya. Berusaha menyatu dengan sempurna sebagai seorang sahabat.
Namun bagaimana jika tetap tak bisa??
Baiklah, itu tentu keputusannya. Dan aku harus menghargai segala sesuatu yang ia inginkan. Karena privasi tak dapat diganggu. Aku akan mundur. Mundur dan menguapkan racun di aliranku. Namun akan aku sisakan sepercik saja. Agar percikan itu mengisi dan mengingatkanku pada laut—tujuanku yang masih misteri—hingga masa itu tiba.
Sekarang dan nanti, selama ia belum—atau sudah?—tahu mengenai jalanku menuju lautnya, aku akan berusaha pada niat awal yang—mungkin akan—sempurna. Semoga saja.
:]
Sungai Hati (postingan yg rada puitis, hhags)
20 Maret 2009 ( 07.04 )
Saat aku mencoba menelusuri dimana aliran sungai cintaku, aku tahu ini akan berhenti dan meluap. Bukan ke laut, dimana tempat yang aku tuju sebenarnya. Atau bahkan air cinta yang aku teteskan setiap hari—mengalir—akan meluap sia-sia. Membanjiri sesuatu yang tak perlu. Karena aku juga tak membuat bendungan untuk menahannya agar tidak keluar. Tak ada yang bisa membawanya kesana. Tak ada. Kecuali laut—dia—itu sendiri yang membukakan gerbang pembatas, sebongkah, atau bahkan gunungan dinding—batu, tentu—agar tidak ada yang bisa memasukinya. Tidak ada yang bisa mengaliri dasar laut yang ia punya, yang mulai menguap dan mengering. Membinasakan setiap keindahan dan “biota” hidup.
Namun tentu ada satu gerbang yang ia buka. Hanya satu dan itu tak mengalirkan kesejukan serta nafas seperti yang ia inginkan. Justru kehidupan dan tirta berharga—yang ia simpan, ia miliki satu-satunya—menderas pada satu jalur sungai kering, habis, tidak berair. Banjir oleh cintanya. Namun sama. Sungai itu melakukan hal persis seperti ia melakukannya padaku. Sama persis. Tapi ia mempertahankannya seperti itu! Tak peduli pada air—yang sangat-SANGAT diinginkan untuk membasahi, ataupun menetesi sedikit pada banyak sungai yang berusaha bersatu—yang akan habis. HABIS!
Aku memang tak mencoba menembus, membobol, atau bahkan dengan paksa menderaskan aliran airku untuk menghancurkan pembatasnya. Tidak. Tidak akan aku lakukan. Karena akhirnya adalah sama—terbuang sia-sia. Aku memilih membanjiri tempat lain. Tanpa ia ketahui. Lebih baik mengakhirinya. Jika—tentu saja—berakhir seperti itu. Aku menyerah pada arus yang aku punya. Kadang menderas, namun tak jarang beralun perlahan, berusaha berbalik mundur, kembali ke belakang. Namun tak bisa. Aku tak bisa.
Sering aku merasa betapa sejuknya arah yang membawaku menuju kesana. Betapa banyak pemandangan dan hal yang bisa ku pelajari. Bahkan terlalu banyak, sampai-sampai aku takkan sanggup menahan detak—pada arusku—yang menggelora. Berusaha menyimpannya dengan sekuat hati, berusaha menelannya. Segala yang nikmat dan terasa dingin. Namun—lagi-lagi—tak bisa. Semakin banyak, semakin susah aku pelajari. Tak jarang pula tanya yang aku bawa ingin melompat kesana-kemari. Aku—juga—tak bisa menahannya (lagi).
Aku tak tahu kapan ini akan sampai, atau kapankah ini akan meluap. Kemana pula arah yang terpeta. Dimana ini sebenarnya? Tak jarang aku berusaha memutar, membuka jalan dan bendungan baru. Berusaha menghindar namun laut yang aku inginkan itu bermagnet—menarikku! Ia menutup dan menghalangi alirannya namun ia seperti membuka. Membiarkan menarik sungai-sungai—seperti aku—tapi penghalangnya tetap ada disana. Berdiri kokoh dengan angkuh namun memesona. Tentu saja. Tak sedikit pula yang harus meluapkan air di dekat—di tembok itu.
Aku belajar banyak dari sana. Aku belajar cara mengarahkan aliran ini. Kepadanya yang sulit ditembus. Kepadanya yang abstrak—begitu sebutanku. Sejujurnya, aku juga tidak tahu dan tak mengerti apa yang tersembunyi di balik pembatas itu. Aku hanya mereka-reka. Menebak dari setiap pembicaraan sepintas dalam sibakan angin. Terbawa, lalu terbang lagi. Aku memang mereka-reka. Semua keindahan itu, segala yang menyejukkan—aku tidak berbohong tentang hal itu—dan semuanya. Aku hanya menghayalkannya. Tapi ku harap saja seperti itu. Karena alun angin pernah berbisik begitulah adanya tentang dia.
Lalu bagaimana jika aku tidak tahan untuk segera ke sana, mendobrak pada pembatas itu? Bagaimana jika itu sampai terjadi? Bagaimana jika ego yang menyetir aliranku? Dan bagaimana lainnya yang akan terus berlanjut.
Tentu aku akan mencobanya. Tentu saja dan aku berjanji akan hal itu. Mencoba mengetuk pembatas dengan halus. Aku berharap emosi tidak keluar saat itu. Sangat berharap. Kemudian jika pembatas itu tidak bergeming, aku akan memutar, membuka aliran baru dengan tujuan yang sama. Namun ada yang berbeda. Ya, berbeda.
Air yang aku bawa ini tersubstansi racun. Toksik yang berbahaya jika tak tercampur dengan substansi lain yang sesuai. Toksik itu bernama cinta . Cinta, abstrak pula. Sama seperti laut itu. Lalu ketika aku membuka aliran baru itu, aku membawa substansi lain. Bernama persahabatan. Aku akan memperjuangkan substansi ini—jalan terakhir untuk menembusnya. Berusaha menyatu dengan sempurna sebagai seorang sahabat.
Namun bagaimana jika tetap tak bisa??
Baiklah, itu tentu keputusannya. Dan aku harus menghargai segala sesuatu yang ia inginkan. Karena privasi tak dapat diganggu. Aku akan mundur. Mundur dan menguapkan racun di aliranku. Namun akan aku sisakan sepercik saja. Agar percikan itu mengisi dan mengingatkanku pada laut—tujuanku yang masih misteri—hingga masa itu tiba.
Sekarang dan nanti, selama ia belum—atau sudah?—tahu mengenai jalanku menuju lautnya, aku akan berusaha pada niat awal yang—mungkin akan—sempurna. Semoga saja.
:]
Chit Chat
type your words HERE
Hey, Visit The Links!
Mitha Paramitha | Create Your Badge
dek Tiara Wardani
dek Jehan Ayu Wulandari
Mbak Gabby Ariane
Mbak Dechie Bestiana
designer DancingSheep
my sista (thanks for helping)Tiara Wardani
Yahoo! Messenger
Facebook
Mitha Paramitha | Create Your Badge
links
click them
dek Tiara Wardani
dek Jehan Ayu Wulandari
Mbak Gabby Ariane
Mbak Dechie Bestiana
credits
designer DancingSheep
my sista (thanks for helping)Tiara Wardani
Arts
my doodling


Archives
yesterday is history and tomorrow is mystery
Januari 2009
Februari 2009
Maret 2009
April 2009
Mei 2009
Juni 2009
September 2009
Februari 2010
Maret 2010
April 2010
Agustus 2010